Penjualan motor listrik ternyata ditopang oleh transportasi online roda dua atau ojek online. Hal ini diungkap Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Budi Setiyadi, tren penjualan motor listrik saat ini mulai bergeser dari konsumen individu ke skema Business to Business (B2B).
“Sekarang banyak dari APM (Agen Pemegang Merek) dengan B2B, dengan mungkin Gojek dan pengiriman barang, dan sebagainya,” kata Budi kepada detikOto, Selasa (6/1/2026).
Menurut Budi, kolaborasi antara produsen motor listrik dengan industri transportasi daring menjadi penggerak utama pasar motor listrik sepanjang 2025. Ia menyebut, pertumbuhan ini tidak hanya dinikmati satu atau dua merek saja, melainkan relatif merata.
“Saya melihat sekarang di tahun 2025 itu, penjualan agak kencang, beberapa brand, antara APM dengan beberapa industri, katakan dengan angkutan ojek itu. Artinya untuk brand itu menurut saya cukup merata,” ungkap dia.
Selain segmen ojek online, AISMOLI juga mencatat minat masyarakat terhadap motor listrik dengan skema sewa baterai terus meningkat. Model bisnis ini dinilai mampu menekan harga jual motor listrik sehingga lebih terjangkau.
“Penjualan motor dinamis, misalnya ada yang juga sewa, seperti Polytron. Itu cukup banyak juga sewanya,” ungkap Budi.
Menurutnya, konsumen motor listrik kini semakin pragmatis. Kemudahan akses dan skema kepemilikan menjadi faktor utama, bukan lagi soal fanatisme merek.
“Yang paling mudah diakses oleh masyarakat tanpa melihat brand. Itu masyarakat tertarik, misalnya mungkin skema baterai sistem sewa, sehingga motornya mungkin jadi harganya murah,” tuturnya.
Tak hanya harga, ketersediaan infrastruktur juga menjadi faktor krusial dalam mendorong adopsi motor listrik. Budi menilai, ekosistem swap baterai yang semakin luas membuat pengguna lebih percaya diri menggunakan motor listrik untuk aktivitas harian.
“Kemudian motornya bisa pakai swap, kalau habis bisa langsung diambil di Alfamart, dan sebagainya,” ujar Budi.
Dengan kombinasi skema B2B, sewa baterai, dan infrastruktur swap yang semakin matang, motor listrik dinilai masih memiliki peluang tumbuh, meski tanpa dukungan subsidi pemerintah.
“Kita sepakat tidak berharap lagi sama pemerintah, mau ada subsidi atau tidak, kita tetap jalan terus,” kata Budi.
“Kita harus mandiri, mencari terobosan, supaya tetap eksis di masyarakat,” jelas dia.
Angka penjualan sepeda motor listrik 2025 mengalami penurunan 28,6 persen dibandingkan tahun lalu. Biang keroknya gara-gara ketidakjelasan subsidi motor listrik.
Data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) mencatat, penjualan motor listrik tahun 2025 hanya mencapai 55.059 unit, turun dari 77.078 unit pada 2024.
