Indonesia masih jadi raja mobil di ASEAN. Penjualan mobil di Indonesia tahun 2025 tercatat masih lebih unggul ketimbang Malaysia.
Penjualan mobil di Indonesia tahun 2025 turun. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat, penjualan secara wholesales turun 7,2 persen menjadi 803.687 unit. Penjualan retail juga turun sebesar 6,3 persen. Kalau pada tahun 2024 penjualan tembus 889.680 unit maka pada tahun 2025 hanya menyentuh 833.712 unit.
Meski turun, nyatanya Indonesia masih jadi raja mobil di ASEAN. Penjualan mobil di Tanah Air masih lebih banyak ketimbang negara tetangga Malaysia. Sebelumnya, angka penjualan mobil di Malaysia pada November 2025 tembus 77 ribuan unit. Angkanya tersebut lebih tinggi dari penjualan wholesales di Indonesia yang hanya 74 ribuan unit pada periode serupa. Dengan demikian, penjualan mobil di Malaysia selama Januari-November 2025 telah mencapai 720 ribuan unit. Sementara pada periode yang sama, Indonesia baru tembus 710 ribuan unit.
Penjualan mobil di Malaysia itu pun melebihi target. Diketahui, Malaysia menargetkan bisa menjual 800 ribu unit. Dikutip Bernama, penjualan mobil di Malaysia tembus 820.752 unit atau naik 0,5 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 816.747 unit.
Presiden Malaysia Automotive Association (MAA) Mohd Shamsor Mohd Zain menyebut peningkatan penjualan itu didukung oleh permintaan konsumen yang menguat, pembiayaan menguntungkan, dan penerimaan yang makin meluas terhadap mobil listrik.
“Mencerminkan kekuatan berkelanjutan industri dan transisinya menuju mobilitas lebih canggih dan berkelanjutan,” katanya.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Menurut MAA, untuk tahun 2026, pasar otomotif Malaysia bakal menghadapi sejumlah tantangan termasuk pertumbuhan ekonomi yang moderat, ketidakpastian perdagangan global, kenaikan biaya akibat inflasi, dan potensi adanya perubahan insentif pajak untuk kendaraan listrik.
Kendati demikian, MAA melihat masih ada faktor positif yang bisa mendukung kenaikan penjualan tahun ini. Pendapatan masyarakat lebih stabil didukung oleh tingkat pengangguran rendah, permintaaan kuat terhadap kendaraan terjangkau dan irit bahan bakar, serta kebijakan yang mendukung investasi asing dipercaya jadi beberapa faktor yang bisa mendukung pertumbuhan industri otomotif di negeri jiran.
