Gara-gara Ini Mobil Hybrid Makin Laris di Indonesia

Posted on

Mobil hybrid semakin banyak di Indonesia, baik dari segi merek maupun modelnya. Artinya, mobil yang menggabungkan mesin pembakaran dalam dengan mesin listrik itu diterima dengan positif oleh konsumen Indonesia. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pun menjelaskan lima keunggulan mobil hybrid.

“Hybrid itu teknologinya bagus. Kenapa? Pertama, mobil ini hemat bahan bakar, karena mesin bensinnya jarang jalan atau jarang hidup,” ungkap Ketua I Gaikindo, Jongkie D.Sugiarto, kepada wartawan di Jakarta (23/1/2026).

Diketahui mobil-mobil yang menggunakan teknologi hybrid, konsumsi bahan bakarnya bisa menyentuh angka 30 km/liter. Bahkan buat mobil hybrid berjenis plug-in hybrid (PHEV), konsumsi bahan bakarnya bisa lebih irit lagi, dengan klaim hingga 76 km/liter.

Keunggulan kedua mobil hybrid menurut Jongkie adalah, rendah polusi. “Keunggulan kedua, karena mesin bensinnya jarang hidup, ya polusinya rendah,” tambahnya. Buat gambaran, mobil hybrid Toyota Kijang Innova Zenix HEV emisinya lebih rendah 34% dibanding Innova Reborn.

“(Keunggulan ketiga) mobil hybrid tidak perlu charging station. Hybrid, plug-in hybrid, tidak perlu charging station,” sambung Jongkie. Mobil plug-in hybrid sendiri memang perlu dicas untuk mengisi ulang daya baterainya. Tapi meskipun baterainya habis, mobil plug-in hybrid masih bisa tetap berjalan. Jadi, ketersediaan charging station tidak terlalu mendesak kebutuhannya.

Lanjut Jongkie menambahkan, keunggulan lain mobil hybrid adalah, terkait harganya yang relatif lebih murah dibandingkan mobil listrik full baterai. “Keunggulan keempat (mobil hybrid) harganya lebih terjangkau dari BEV (mobil listrik baterai). Karena baterainya (mobil hybrid) kecil, dia cuma tahan 100 km. Ya dia (mobil hybrid) nggak papa cuma 100 km, karena begitu baterainya habis, mesin bensinnya hidup, nge-charge lagi, jalan terus. Dia nggak usah khawatir mesti ngisi (ulang baterai) di mana,” katanya.

Dan keunggulan kelima mobil hybrid ternyata begitu penting, karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan industri otomotif ke depannya. Kata Jongkie, mobil teknologi hybrid masih menggunakan banyak komponen atau suku cadang dari mesin konvensional, sehingga kehadiran mobil hybrid tak bakal ‘membunuh’ industri komponen.

“Kelima, yang paling penting sebetulnya. Kalau kita bikin hybrid, plug-in hybrid, sama REEV (range extender electric vehicle), itu kita tidak khawatir pabrik-pabrik komponen tutup. Karena mobil-mobil hybrid masih pakai radiator, masih pakai knalpot, masih pakai filter udara,” ujar Jongkie.

“Kalau nggak, kayak (yang terjadi) di Thailand. Thailand karena semua yang pindah ke listrik, akibatnya mobil ICE-nya ngedrop. Kalau ngedrop, gak usah beli radiator dong,
gak usah beli knalpot, pada tutup pabriknya. Makanya itu juga harus diperhatikan,” tukas Jongkie.