Penjualan mobil LCGC (low cost green car) tahun 2025 mengalami penurunan signifikan. Diduga salah satu penyebabnya adalah kehadiran mobil listrik murah asal China yang dijual dengan rentang harga di bawah Rp 200 jutaan. Apa kata Gaikindo?
Menilik catatan penjualan mobil yang dihimpun Gaikindo tahun 2025, penjualan LCGC hanya 130.799 unit. Torehan tersebut turun 27%, dibandingkan raihan tahun 2024 yang mencapai 178.726 unit.
Sebelumnya pada 2024, penjualan LCGC juga turun 10% dibandingkan tahun 2023. Pada tahun 2023, bahkan penjualan LCGC nyaris menyentuh 200 ribu unit, lebih tepatnya sebanyak 198.564 unit.
Kondisi perekonomian yang melemah menjadi alasan di balik menurunnya penjualan mobil LCGC. Terlebih, LCGC menyasar pembeli mobil pertama yang merasakan langsung kondisi ekonomi di dalam negeri. Selain itu, serbuan mobil listrik murah dari China juga menjadi penyebab turunnya penjualan mobil LCGC.
“Jadi xEV (kendaraan elektrifikasi) kita sudah 16% lebih dan tentunya ini karena pasarnya yang tumbuh, maka makan dari konvensional. Yang kemakan adalah dari LCGC dan juga konvensional non-LCGC. Kita lihat turun menjadi 83%,” bilang Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara belum lama ini.
Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengungkapkan, tren otomotif saat ini memang sudah mengarah ke kendaraan listrik. Jadi itu merupakan suatu keniscayaan. Jadi, kalau mobil LCGC tak mau semakin tergerus pasarnya, maka harus menciptakan ide-ide baru, atau membuka pasar baru.
“Masyarakat sekarang punya banyak pilihan. Merek banyak, tipe mobilnya juga banyak. Sekarang kalau LCGC, dia harus punya ide (baru) lah,” buka Jongkie kepada wartawan di Jakarta (23/1/2026).
“Memang teknologi LCGC masih ICE (mesin bensin), sementara sekarang trennya sudah ke situ (mobil listrik). Tapi kan Indonesia ini luas, jadi nggak bisa kita pakai mobil listrik semua. Misalnya di daerah pelosok, terpencil, belum bisa mungkin (menggunakan mobil listrik). Maka yang saya bilang, cari pasar, LCGC harus cari pasar, ke mana dia harus cari,” terang Jongkie.
