Pasar otomotif Indonesia saat ini diramaikan beragam teknologi mesin kendaraan. Kini tak cuma mobil bermesin bensin atau diesel, ada juga mobil hybrid, plug-in hybrid dan mobil listrik yang diklaim lebih ramah lingkungan.
Meski begitu, menurut studi yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), mobil ICE (internal combustion engine) atau mobil konvensional berbahan bakar minyak masih mendominasi pasar otomotif Indonesia, setidaknya dalam lima tahun ke depan.
“Dari 1.511 (responden) potential car buyers dalam lima tahun mendatang, ada 81 persen (1.229 responden) yang tetap ingin membeli (mobil bensin). Sementara pangsa pasar xEV (kendaraan elektrifikasi) sekitar 19 persen dari hasil responden di survei kami,” kata Syahda Sabrina, peneliti LPEM FEB UI, ditemui di Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini.
Untuk kategori kendaraan elektrifikasi, mobil hybrid tercatat paling banyak. Dalam lima tahun ke depan, menurut studi ini, 10 persen pembeli mobil baru memilih mobil hybrid.
“Di sini kuenya hybrid masih lebih tinggi dibandingkan dengan BEV (mobil listrik berbasis baterai),di mana yang hybrid ini lebih tinggi terutama di Pulau Jawa,” kata Syahda.
Begitu juga soal mobil bekas. Menurut Syahda, semakin canggih teknologi mesin kendaraan, semakin sedikit peminat mobil bekasnya. Contoh, dalam studi ini dari 1.229 responden peminat mobil ICE dalam lima tahun ke depan, 68 persennya lebih memilih mobil bekas, sedangkan mobil barunya hanya 32 persen.
Selanjutnya, untuk peminat mobil hybrid, 50 persen memilih mobil baru dan 50 persen lagi pilih mobil bekas. Kemudian peminat PHEV 53 persen memilih mobil baru dan 47 persen mobil bekas. Lalu peminat mobil listrik, 62 persen lebih memilih versi baru ketimbang 38 persen mobil bekas.
“Yang bisa kita simpulkan adalah semakin baru teknologi atau semakin jauh teknologi ini dibandingkan dengan mobil bensin atau konvensional yang selama ini sudah lebih dikenal,semakin sedikit kepercayaan konsumen untuk membeli mobil bekas di powertrain baru tersebut. Jadi ini kalau kita lihat BEV itu yang berminat untuk membeli mobil bekasnya paling rendah. Hanya 38 persen,” ujar Syahda.
“Ini bisa disebabkan oleh dua hal, yang pertama karena pasar dari mobil bekas BEV-nya masih tipis, dan yang kedua bisa juga disebabkan ketidakpercayaan dari konsumen untuk membeli mobil bekas pada mobil dengan teknologi baru,” sebut Syahda. alasan






