Membawa mobil listrik untuk road trip jarak jauh saat ini mungkin masih menjadi kekhawatiran banyak orang. Mulai dari kondisi jalan, lokasi stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) sering menjadi tantangan.
Namun, seiring perkembangan teknologi kendaraan, daya tempuh yang semakin jauh, serta bertambahnya fasilitas pengisian baterai, road trip jarak jauh menggunakan mobil listrik kini semakin realistis untuk dilakukan.
detikOto kembali melakukan program road trip ribuan kilometer menggunakan mobil listrik. Kali ini, mobil yang digunakan adalah Aletra L8, sebuah MPV listrik yang dirancang untuk kebutuhan perjalanan jarak jauh. Sebagai brand Indonesia, Aletra mengklaim mobil ini disesuaikan dengan karakter jalan dan pola penggunaan kendaraan di Tanah Air, klaim yang kami uji langsung dalam perjalanan ini.
Dalam road trip ini, detikOto melakukan perjalanan dari kantor di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, menuju Palembang, Sumatera Selatan. Tapi, sebelum tiba di Palembang, kami melakukan perjalanan beberapa hari untuk mengeksplorasi Provinsi Lampung. Total jarak yang kami tempuh selama road trip dan kembali lagi ke Jakarta mencapai 1.385 km.
Jawab Kekhawatiran Mobil Listrik Nyebrang ke Sumatera
Awalnya banyak yang mengkhawatirkan membawa mobil listrik ke tanah Andalas. Soalnya, mungkin infrastruktur pengisian baterai mobil listrik di sana belum sebanyak di Pulau Jawa. Tapi, kekhawatiran itu bisa kami tepis dalam perjalanan membawa Aletra L8 ke Sumatera kali ini.
Perlu dicatat, dalam melakukan road trip, apalagi dengan mobil listrik, kita harus mempersiapkan segala halnya dengan matang. Termasuk rencana perjalanan, memetakan lokasi SPKLU, hingga menyiapkan biaya yang diperlukan untuk perjalanan jauh ini.
Sebelum berangkat, kami sudah memetakan lokasi SPKLU di sepanjang perjalanan yang kami lewati. Di Tol Trans Sumatera dari Bakauheni sampai Palembang, sudah banyak SPKLU yang tersedia. Beberapa sudah support pengisian cepat alias fast charging.
Tak cuma itu, sebelum melakukan perjalanan juga kita harus menyesuaikan daya jangkau mobil listrik sesuai spesifikasinya dengan lokasi SPKLU. Dalam hal ini, Aletra L8 dibekali baterai berkapasitas 64,74 kWh dengan daya jangkau 540 km.
Dari Jakarta, baterai sudah terisi penuh. Kami percaya mobil ini bisa digaspol setidaknya sampai Bandar Lampung, lokasi pertama kami bermalam, tanpa harus mengisi ulang baterai di tengah perjalanan. Dan benar saja, mobil ini aman digas sampai Bandar Lampung. Dengan jarak 220 km (berdasarkan data di trip meter), mobil ini kami isi ulang lagi daya baterainya di SPKLU PLN UP3 Tanjung Karang, Bandar Lampung. Dalam pengisian ini masuk sekitar 47 kWh dengan durasi ngecas 1 jam 10 menit. Biayanya Rp 127 ribuan, termasuk pajak.
Keesokan harinya, mobil kami bawa keliling Lampung dan masih tersisa banyak baterainya. Hari ketiga, Aletra L8 kami gas ke Way Kambas dari Bandar Lampung dengan jarak 90 km. Dan dari Way Kambas, kami langsung gaspol ke Palembang dengan mampir ke rest area KM 234 A Tol Bakauheni-Kayu Agung untuk ngecas lagi. Dari rest area, Aletra L8 sudah aman digunakan sampai Palembang.
Di Palembang sendiri sudah banyak SPKLU yang tersedia. Kami memilih SPKLU di PLN S2JB Demang, karena pilihannya lebih banyak dan terdapat SPKLU fast charging hingga 100 kW.
Untuk kembali ke Jakarta dari Palembang, pilihan SPKLU juga sudah banyak. Sepanjang tol dari Palembang sampai Bakauheni sudah banyak SPKLU yang ada di rest area. Memang beberapa rest area hanya menyediakan SPKLU dengan arus AC (slow charging), tapi lebih banyak SPKLU fast charging-nya di rest area lain.
Selama perjalanan pulang dari Palembang ke Jakarta, kami memilih ngecas di SPKLU Rest Area KM 116B Lampung Tengah arah Bakauheni. Ngecas sebentar sekitar 46 menit sambil istirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan mengejar jadwal kapal penyeberangan di Pelabuhan Bakauheni. Setelah nyebrang, kami ngecas lagi di Pelabuhan Merak. Tiba di Jakarta lagi, baterai masih tersisa banyak, sekitar 63 persen.
Kesimpulannya, perjalanan Jakarta-Palembang PP selama enam hari tidak ada kendala berarti dalam hal pengisian daya, fasilitas pengisian baterai atau jarak tempuh Aletra L8 ini. Jadi, sudah aman banget pakai mobil listrik seperti Aletra L8 untuk road trip ke Palembang, bahkan untuk mampir-mampir ke tempat wisata dan kuliner di sepanjang perjalanan.
Dalam perjalanan Jakarta-Palembang-Jakarta dengan total 1.385 km selama enam hari, kami melakukan pengisian baterai mobil sebanyak tujuh kali. Kami sengaja mengisi ulang baterai di setiap malam sebelum tiba di penginapan agar keesokan harinya siap ditempuh jarak jauh. Total biaya yang diperlukan untuk ngecas selama road trip enam hari ini hanya Rp 701.413. Rata-rata sekali ngecas sampai full memakan biaya Rp 100 ribuan.
Angka itu jauh lebih irit dibandingkan dengan menggunakan mobil bensin. Sebagai simulasi, misalnya mobil bensin memiliki konsumsi bahan bakar rata-rata 10 km/liter. Untuk menempuh jarak 1.385 km, berarti butuh 138,5 liter. Dengan harga bensin RON 92 di angka Rp 12-13 ribuan, berarti butuh biaya hingga Rp 1,6 sampai Rp 1,8 jutaan hanya untuk membeli bensin.
Sebagai catatan lagi, Aletra L8 sudah mendukung pengisian cepat, jadi untuk ngecas sampai penuh cuma butuh waktu maksimal 1 jam-an, sambil meluangkan waktu untuk istirahat, makan dan ibadah.
Taklukkan Jalan Bergelombang Sumatera
Perlu diketahui, khas jalanan Sumatera dari Lampung sampai Palembang, sangat menantang. Jalan tolnya beberapa memang ada yang mulus. Tapi banyak juga yang bergelombang. Bahkan dari Gerbang Tol Kayu Agung sampai Kramasan, jalannya hampir full sedang dilakukan perbaikan. Jalannya rusak parah di beberapa titik, macet juga dan bergelombang.
Tapi, tantangan jalan bergelombang selama road trip ke Sumatera ini dapat dilalui dengan nyaman dengan Aletra L8. Saat digeber di jalan tol yang bergelombang, Aletra L8 tetap terasa anteng, tidak mengayun apalagi limbung. Ini kami rasakan perbedaannya saat duduk di mobil pendukung ketika melalui jalanan serupa.
Ketika melewati jalanan rusak pun kaki-kaki Aletra L8 ini tetap bisa menopang kenyamanan. Meski di kecepatan tinggi tetap stabil dan tidak mengayun, kaki-kakinya tetap bisa memberikan kenyamanan, bantingannya tidak terlalu keras di jalan rusak. Kenyamanan ini bisa dirasakan saat duduk sebagai pengemudi, penumpang depan atau bahkan penumpang belakang.
Aletra L8 menyediakan jok dengan material kulit yang nyaman diduduki. Sebagai pengemudi, joknya dapat menopang punggung dengan sempurna. Bantalan penopang punggung di kiri-kanan joknya membuat kami tetap rileks berkendara. Jadi nyetir untuk perjalanan jauh tidak bikin badan lelah.
Buat penumpang belakang, Aletra L8 sangat nyaman, apalagi hadir dengan jok captain seat. Ditambah leg room dan head room yang luas.
Performa Andal buat Jalanan Sumatera
Di atas kertas, Aletra L8 menggunakan baterai Short Blade Bulletproof Battery 64,74 kWh dengan Permanent Magnet Synchronous Motor. Kombinasi itu membuat Aletra L8 memiliki tenaga maksimal 161 daya kuda dengan torsi maksimal 240 Nm.
Akselerasi 0-100 km/jam cuma membutuhkan waktu 10,7 detik. Kecepatan tertingginya mencapai 160 km/jam.
Dengan bekal itu, Aletra L8 sangat bisa diandalkan dalam perjalanan panjang road trip ke Palembang ini. Untuk menyalip kendaraan lain, atau ketika butuh akselerasi instan, Aletra L8 dengan cekatan memberikan respons terbaiknya, itu pun masih menggunakan mode Eco. Apalagi ketika mode Sport-nya diaktifkan, tenaga dan torsi instan langsung terasa sejak gas diinjak.
Sebagai fitur keamanan, jangan heran kalau ada notifikasi di layar MID ketika mobil digeber di kecepatan 120 km/jam. Meski begitu, mobil ini masih bisa ditambah kecepatannya jika dibutuhkan dan dipastikan keamanannya.
Kesimpulan
Dalam perjalanan ini, kami membuktikan bahwa membawa mobil listrik jarak jauh bukan lagi hal yang mengkhawatirkan. Meski masih banyak keraguan soal penggunaan mobil listrik untuk perjalanan jarak jauh, pengalaman road trip ini menunjukkan bahwa Aletra L8 sudah mumpuni untuk digunakan dalam perjalanan lintas pulau. Yang terpenting dalam membawa mobil listrik seperti Aletra L8 untuk road trip jarak jauh adalah lakukan perencanaan rute yang matang dan memanfaatkan infrastruktur yang tepat.






