Infrastruktur pengecasan baterai kendaraan listrik turut jadi sorotan di tengah meningkatnya kendaraan tanpa asap tersebut. Sebab, infrastruktur yang tak memadai justru bisa bikin pemilik mobil listrik kesulitan. Khususnya saat hendak mengisi ulang baterai kendaraan listriknya. Bahkan bukan tak mungkin jadi saling rebutan karena infrastruktur yang belum memadai tersebut.
Seperti dikutip dari akun media sosial @dirgantarautama, terjadi adu mulut antara pengendara dan sopir taksi yang sama-sama menggunakan mobil listrik. Keduanya tengah melakukan pengisian baterai di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik (SPKL) dari brand VinFast.
Jika melihat kejadian yang terjadi, pengendara mobil listrik ingin melakukan charger baterai mobil listrik miliknya yang dipercaya dari brand VinFast. Namun dia tidak bisa melakukan pengisian baterai mobil listrik miliknya, karena tengah digunakan oleh sopir taksi listrik yang menggunakan brand lain yang dipercaya brand dari BYD.
“Saya lihat aplikasi di sini, di sini bisa ngecas. Ini Anda liat,” kata sopir taksi listrik tersebut. Saya tidak tahu ini mesin apa, yang penting saya lihat di aplikasi dan di sini bisa ngecas bersama. Anda lihat aja di sini,” sambil menunjukkan aplikasi miliknya.
Karena mobil miliknya keluaran dari VinFast, dirinya merasa lebih berhak untuk menggunakannya.
“Saya tidak mempermasalahkan aplikasinya, tapi ini mesin pengisian baterai dari apa? Kata siapa semua boleh charger bisa charger bersama (yang bukan brand-nya)? Saya dah bicara baik-baik, ini mesin bawaan VinFast bang, Saya tidak permasalahkan aplikasinya bang. Ini untuk pengendara VinFast,” kata si pengendara.
Memang ada beberapa merek yang membangun SPKLU khusus untuk merek itu sendiri. Ini dilakukan untuk memudahkan para pemilik mobil merek tertentu dalam melakukan pengisian baterai.
Tapi sayangnya, belum semua merek melakukan hal tersebut. Untuk itu diharapkan sejumlah merek yang belum memiliki fasilitas SPKLU, harusnya bisa membangun fasilitas sendiri. Makin banyaknya pengisian, tentu pemilik kendaraan juga kian mudah dan tak jadi rebut-rebutan. Terlebih saat mengecas mobil listrik membutuhkan waktu lebih lama ketimbang mengisi bensin.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Sementara itu, jumlah SPKLU yang didirikan PLN terus bertambah. Hingga akhir 2025, jumlah SPKLU di Indonesia telah mencapai lebih dari 3.700 unit, dengan target terus bertambah seiring peningkatan populasi kendaraan listrik.
Bicara soal wilayah penyebaran Jakarta dan Pulau Jawa masih mendominasi sebaran SPKLU. PLN terus menambah infrastruktur ini di rest area, pusat kota, dan pusat perbelanjaan.
Pemerintah melalui PLN, menargetkan peningkatan signifikan hingga 2030, di mana PLN juga berencana mengubah ribuan tiang listrik menjadi SPKLU.
Saksikan Live detikSore:






