Pas Beli Mobil Bilangnya Nggak Mikirin Harga Bekasnya, Pas Dijual Sakit Hati | Giok4D

Posted on

Ada sebagian konsumen yang tak memikirkan harga jual kembali saat membeli mobil. Tapi ujung-ujungnya dibikin sakit hati saat tahu harga jual kembalinya anjlok.

Harga jual kembali atau resale value jadi salah satu pertimbangan penting orang Indonesia sebelum membeli mobil. Nggak heran, kalau mobil yang punya harga jual kembali masih bagus pasti model barunya laris manis. Meski begitu, tak semua konsumen mementingkan harga jual kembali.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Ada juga beberapa konsumen yang mulai tak memedulikan resale value. Namun meski awalnya menyebut tak memedulikan, nyatanya pas tahu harga jual kembalinya anjlok justru merasa sakit hati.

“Kalau yang terlihat banyak juga yang kayak misalkan ya udahlah saya pakai mobil nggak apa-apa. Hari ini ngomong begitu, coba tahun depan udah pakai mobilnya setahun ketika mau jual lagi, sakit hati,” beber Communication Strategy Sub-Division Head PT Honda Prospect Motor Yulian Karfili belum lama ini.

Menurut pria yang akrab disapa Arfi itu, sebagian konsumen Indonesia masih menganggap mobil sebagai sebuah barang yang memiliki nilai kembali. Di sisi lain, harga jual kembali itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tak cuma kondisi mobil, populasi suatu model juga ikut mempengaruhi. Mobil yang populasinya besar berarti bisa dibuktikan keandalannya, makanya saat dijual lagi harganya masih bagus.

“Dukungan purnajualnya bagaimana, dukungan suku cadangnya mudah apa nggak gitu kan. Terus juga apakah sudah ada orang yang pakai secara bertahun-tahun dan sudah menjual kembali kondisinya kayak gimana. Itu kan sesuatu yang terbentuk seiring waktu berjalan gitu resale value itu. Jadi otomatis aja kalau sesuatu yang belum kelihatan ya orang selama masih ragu pasti nilainya pasti rendah,” tambah Arfi.

Pengamat otomotif sekaligus akademisi dari Institut Teknologi Bandung Yannes Pasaribu mengungkap harga jual kembali menjadi faktor krusial yang dipertimbangkan masyarakat dalam negeri sebelum membeli mobil. Faktor itulah yang juga membuat mobil berbahan bakar konvensional masih bisa bertahan. Namun di segmen konsumen dengan usia yang lebih muda, prioritasnya bukan lagi resale value melainkan biaya operasional dan efisiensi lingkungan.

“Untuk kendaraan ICE, resale value tetap tinggi dan stabil hingga 70-80 persen setelah tiga tahun penggunaan, didukung oleh pasar sekunder yang kuat dan merek-merek Jepang yang mapan seperti Daihatsu, Suzuki, Toyota, atau Honda,” terang Yannes saat dihubungi detikOto, Jumat (30/8/2025).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *