Kursi Depan JakLingko untuk Prioritas, Tak Semua Orang Boleh Duduk

Posted on

Baru-baru ini, sopir JakLingko dipecat usai menghina penumpang dengan panggilan ‘monyet’. Kasus tersebut bermula dari si sopir yang melarang penumpang duduk di kursi depan kendaraan.

Setelah melarang duduk di kursi depan, penumpang itu kemudian merekam si sopir untuk membuat aduan di media sosial. Sopir yang emosi lantas melontarkan makian hingga berujung pemecatan.

Faktanya, kursi depan JakLingko memang bukan untuk semua orang. Fasilitas tersebut hanya ditujukan untuk penumpang dari kalangan tertentu, seperti disabilitas, ibu hamil dan lansia.

“kursi prioritas pada mikrotrans berada pada kursi depan di samping pramudi. Ditandai dengan stiker pada dashboard bagian depan,” demikian tulis laman resmi TransJakarta, dikutip Sabtu (3/1).

“Kursi ini diperuntukkan bagi pelanggan prioritas seperti lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan pelanggan dengan balita,” tambahnya.

Menurut TransJakarta, ada alasan khusus mengapa kursi prioritas JakLingko berada di depan. Tujuannya, kata mereka, agar mudah berkomunikasi dengan pengemudi.

“Kursi prioritas diposisikan di bagian depan samping pramudi untuk memudahkan komunikasi dan memudahkan pelanggan prioritas saat naik dan turun,” kata induk perusahaan JakLingko tersebut.

Sebelumnya, media sosial dihebohkan video yang menampilkan pengemudi JakLingko memaki-maki penumpang perempuan. Imbasnya, dia kehilangan pekerjaan usai dipecat perusahaan.

Menurut keterangan pengunggah video dengan akun Instagram @yogi_085664016987, pengemudi JakLingko mulanya melarang penumpang duduk di kursi depan, bahkan ketika kursi belakang sudah mulai penuh.

“Mau cerita sedikit kejadiannya. Berawal naik JakLingko dari Mall Plaza Buaran dan pas mau naik sopirnya nggak ngizinin duduk di depan karena di belakang masih kosong. Tapi setelah full di belakang, dia tetap nggak izinkan penumpang duduk di depan,” demikian tulis pengunggah video.

Ketika sampai tujuan, korban memutuskan merekam video untuk membuat laporan di media sosial. Namun, sopir tersebut justru marah dan melontarkan makian kasar.

“Si sopir sempat menyembunyikan identitasnya dan berhenti lalu marah-marah ke saya karena divideokan. Sopir hampir ingin memukul saya namun tidak sempat terekam,” kata dia.

TransJakarta secara terbuka sudah menyampaikan permohonan maaf. Meski melarang penumpang umum duduk di kursi depan tak salah, namun melontarkan kata-kata kasar juga tak bisa dibenarkan.