Dua pebalap asal Indonesia menorehkan sejarah di balapan paling ekstrem di dunia, Reli Dakar. Bahkan, salah satunya sempat meraih juara di satu stage.
Dua pebalap Indonesia yang menorehkan sejarah di Reli Dakar itu adalah Julian ‘Jejelogy’ Johan dan Shammie Baridwan. Mereka balapan di Reli Dakar dengan tim Compagnie Saharienne.
Dikutip dari situs resmi Reli Dakar, hingga stage terakhir, Jeje (sapaan akrab Julian Johan) mendapatkan peringkat lima secara overall di kategori Classic. Sedangkan Shammie mengisi posisi tujuh.
“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, teman-teman semua ternyata saya bisa juga finis Dakar, sebuah kejuaraan yang menjadi mimpi saya sejak kecil. Dan ternyata nggak cuma itu, masih dikasih nikmat, dikasih rezeki untuk bisa finis sampai kita di hari terakhir ini dengan result yang menurut saya sangat baik. Alhamdulillah kita mendapatkan peringkat 5 overall, juara 3 di kelas, dan di kelas Iconic Classic kita mendapat juara pertama,” kata Jeje penuh haru dikutip dari akun Instagramnya.
“Di sini selama dua minggu rasanya kayak kemarin baru aja mimpi, ngelihat di TV, ngelihat di majalah pengen ngerasain suatu hari bisa ada di sini. Ternyata alhamdulillah dengan tekad, dengan keseriusan mencoba untuk berusaha mencari jalan untuk akhirnya berada di sini. Itu semua terbayarkan di hari ini. Terima kasih sekali lagi semuanya semoga bisa menjadi inspirasi, bisa menjadi energi positif untuk kita di Indonesia, untuk olahraga dunia otomotif atau yang lainnya,” katanya.
Jeje turun di Reli Dakar bersama tim Compagnie Saharienne. Dia didampingi Mathieu Monplaisi dari Prancis sebagai navigator. Jeje mengendarai mobil Toyota Land Cruiser 100 (HDJ 100) dengan mesin 4.2L 6 silinder turbo.
Sedangkan Shammie Baridwan yang juga di-support tim Compagnie Saharienne, didampingi navigator Ignas Daunoravicius dari Lithuania. Shammie mengendarai mobil Toyota Land Cruiser 70 (HZJ 78) dengan mesin 4.2 liter 6 silinder.
Jika menelusuri arsip secara menyeluruh, memang belum ada jejak pebalap Indonesia dalam sejarah Dakar. Tapi, bukan berarti budaya off-road asing bagi Indonesia. Jeje dan Shammie sudah malang melintang di dunia motorsport ini.
“Ini adalah petualangan terhebat bagi saya, seperti bagi siapa pun. Berada di podium start saja sudah merupakan sebuah pencapaian. Tahap-tahap awal seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Ini adalah pertama kalinya saya berkompetisi dalam balapan untuk konsistensi dan itu tidak semudah yang terlihat, tetapi saya mencoba untuk belajar lebih banyak setiap hari,” kata Jeje dikutip situs resmi Reli Dakar.
Meski menjadi pengalaman pertama, Jeje dan Shammie sukses menjadi pesaing tangguh di lintasan Reli Dakar. Bahkan, Shammie sempat jadi juara 2 di etape 1 dan juara 1 di etape 11.
“Kami sudah saling kenal sejak SMP, sekitar 20 tahun. Kami telah melakukan banyak perjalanan darat, berkemah, dan mengikuti balapan bersama, jadi ketika saya melihatnya menang hari ini, tentu saja saya sangat senang dan bangga padanya,” kata Jeje saat menyambut Shammie jadi juara di etape 11.
Shammie juga tidak ragu menyebutkan kesuksesan ini sebagai hasil dari kemitraan sejati. “Saya menang hari ini, tetapi Jeje-lah yang membawa saya ke sini dan tujuan utama kami adalah untuk mencapai garis finis Dakar Classic bersama-sama. Kami berada di dua kru yang berbeda tetapi kami membentuk satu tim, untuk Indonesia,” kata Shammie.
Sebagai informasi, Reli Dakar merupakan balapan paling ekstrem di dunia. Reli ini bukan cuma soal adu kecepatan. Reli Dakar menguras fisik, juga membutuhkan strategi dan navigasi yang presisi. Reli Dakar digelar dengan rute menantang di Arab Saudi melewati gurun, tanah berbatu, serta jalur pegunungan. Tahun ini, Reli Dakar digelar selama dua pekan, dari 3 Januari 2026 sampai 17 Januari 2026.
