Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) sudah tidak mengharapkan kebijakan subsidi motor listrik dari pemerintah. Namun industri motor listrik masih ingin didukung lewat kebijakan non-fiskal.
“Kita sudah sepakat dalam industri, kita tidak bisa mengandalkan pemerintah saja,” kata Ketua Aismoli, Budi Setiyadi kepada detikOto, Selasa (6/1/2026).
Kata Budi, pemerintah saat ini berfokus pada Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan ekonomi melalui Koperasi Merah Putih.
“Pemerintah punya target khusus, seperti MBG, Merah Putih, itu lebih banyak menuntut perhatian pemerintah,” kata Budi.
“Kita sepakat tidak berharap lagi sama pemerintah, mau ada subsidi atau tidak, kita tetap jalan terus,” tambah dia.
Kondisi ini memaksa pabrikan motor listrik untuk memutar otak dan mencari strategi baru agar tetap bisa bersaing di pasar otomotif nasional tanpa sokongan dana negara.
“Kita harus mandiri, mencari terobosan supaya tetap eksis di masyarakat,” ungkap Budi.
“Kita harus mandiri, mencari terobosan, supaya tetap eksis di masyarakat. Kalau tidak bisa memberikan insentif fiskal,” tambah Budi.
Meski demikian, Aismoli tetap menuntut dukungan dalam bentuk lain, yakni insentif non-fiskal. Budi mengusulkan agar pengguna motor listrik diberikan “karpet merah” di jalan raya agar masyarakat tetap tertarik beralih dari motor bensin.
“Insentif non-fiskal, memberikan semacam privilege kepada pengguna, seperti ganjil genap, atau ada jalur khusus sepeda motor listrik, atau parkir yang menekan biaya untuk sepeda motor listrik, atau pemerintah daerah sudah mulai menggunakan sepeda motor listrik,” jelas Budi.
Penjualan motor listrik turun tanpa subsidi. Angka penjualan sepeda motor listrik 2025 mengalami penurunan 28,6 persen dibandingkan tahun lalu. Biang keroknya gara-gara ketidakjelasan subsidi motor listrik.
Data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) mencatat, penjualan motor listrik tahun 2025 hanya mencapai 55.059 unit, turun dari 77.078 unit pada 2024. pasrah






