Penjualan mobil mengalami penurunan. Dibandingkan penjualan mobil bekas, mobil baru jauh lebih sedikit. Faktor harga menjadi salah satu penentunya.
Berdasarkan studi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), penjualan mobil baru menurun signifikan dari puncaknya sebanyak 1,22 juta unit pada 2013 menjadi sekitar 866 ribu di tahun 2024. Tren penurunan ini disebabkan oleh masalah keterjangkauan.
Studi LPEM FEB UI menyebut, kenaikan harga mobil baru tidak sebanding dengan inflasi. Sehingga, jarak antara harga kendaraan baru dengan daya beli masyarakat semakin jauh.
“Kalau kita lihat income dari rumah tangga itu meningkatnya tidak secepat pertumbuhan harga mobil.Kalau kita lihat dari real wage, dari upah real, itu juga kenaikannya tidak secepat inflasi.Itu salah satu indikator yang bisa dilihat, yang mengindikasikan bahwa adanya gap antara harga (mobil baru) dan juga kemampuan beli dari rumah tangga saat ini,” kata Syahda Sabrina, peneliti LPEM FEB UI, ditemui di Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini.
Indonesia ditargetkan bisa menjual mobil sebanyak 2 juta unit per tahun pada 2030. Namun, pada 2025 saja penjualan mobil tak sampai 1 juta unit.
Berdasarkan estimasi LPEM FEB UI, dengan pertumbuhan ekonomi yang mencatat 5,5 persen PDB, penjualan mobil bisa meningkat dari 930 ribu juta unit pada 2026 menjadi sekitar 1,32 juta unit 2030. Angka itu masih jauh dari target 2 juta unit pada 2030.
Sementara itu, dengan pengurangan harga mobil sebesar 10 persen, penjualan mobil baru bisa mencapai 1,62 juta unit pada 2030. Angka itu pun masih jauh di bawah target 2 juta unit. Untuk mencapai target itu, LPEM FEB UI menarik kesimpulan, dibutuhkan strategi yang memindahkan pembeli dari pasar mobil bekas dengan memperkecil lebih jauh selisih harga antara mobil baru dan bekas
“Kalau misalnya harga mobil baru turun 1%, maka ada kenaikan permintaan di mobil baru yang memang beda-beda di antara segmen. Jadi ini kan hukum permintaan dari teori ekonomi, kalau misalnya harga turun, pasti permintaannya naik,” kata Syahda.
Berdasarkan survei LPEM FEB UI, dari total 1.511 responden calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan, 962 di antaranya menyatakan ingin membeli mobil bekas. Meski begitu, kalau harga mobil turun, sebagian dari mereka lebih memilih mobil baru.
“Kita tanyakan kalau misalnya harga mobil baru itu turun 10 persen, berapa persen dari 962 orang ini yang ingin berpindah ke mobil baru? Ternyata ada sekitar 27 persen yang mereka menyatakan akan shifting ke mobil baru apabila harga mobil baru itu diturunkan,” ujar Syahda.
Dalam studi itu, juga disurvei skenario lain, yaitu jika harga mobil bekas dinaikkan. “Kalau misalnya harga mobil bekasnya jadi lebih mahal, apakah responden atau konsumen itu berminat untuk beli mobil baru ketimbang beli mobil bekas? Ternyata yang berminat untuk shifting lebih kecil dibandingkan dengan harga mobil barunya turun. Kalau harga mobil bekasnya yang dinaikkan itu hanya sekitar 15 persen, kalau tadi (jika harga mobil baru turun) kan 27 persen,” bebernya.






